Senin, 24 November 2014

Pengertian atau defenisi dalam asesment menurut para ahli



Pengertian Evaluasi (Penilaian), Pengukuran, Tes,dan  Asesmen
Pengertian Evaluasi (Penilaian) Menurut Para Ahli
·                     Sudiono, Anas (2005) mengemukakan bahwa secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation, dalam bahasa Indonesia berarti penilaian. Akar katanya adalah value yang artinya nilai. Jadi istilah evaluasi menunjuk pada suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
·                     Frey, Barbara A., and Susan W. Alman. (2003): Evaluation The systematic process of collecting, analyzing, and interpreting information to determine the extent to which pupils are achieving instructional objectives. (Artinya: Evaluasi adalah proses sistematis pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi untuk menentukan sejauh mana siswa yang mencapai tujuan instruksional).
·                     Mardapi, Djemari (2003), penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran.
·                     Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution (2001), mengartikan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.
Kesimpulan Tentang Pengertian Evaluasi:
·                     Evaluasi berasal dari akar kata bahasa Inggris value yang berarti nilai, jadi istilah evaluasi sinonim dengan penilaian.
·                     Evaluasi merupakan proses sistematis dari mengumpulkan, menganalisis, hingga interpretasi (menafsirkan) data atau informasi yang diperoleh.
·                     Data atau informasi diperoleh melalui pengukuran (measurement) hasil belajar.melalui tes atau nontes.
·                     Evaluasi bersifat kualitatif.
Pengertian Pengukuran (Measurement) Menurut Para Ahli
·                     Alwasilah et al.(1996), measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performa siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (sistem angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performa siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka
·                     Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.
·                     Cangelosi, James S. (1995), pengukuran adalah proses pengumpulan data secara empiris yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan.
·                     Sridadi (2007) pengukuran adalah suatu prose yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku.
Kesimpulan Tentang Pengertian Pengukuran:
·                     Kegiatan pengukuran dilakukan dengan membandingkan hasil belajar dengan suatu ukuran tertentu. 
·                     Dilakukan dengan proses sistematis. 
·                     Hasil pengukuran berupa besaran kuantitatif (sistem angka). 
·                     Pengukuran menggunakan alat ukur yang baku.
Pengertian Asesmen Menurut Para Ahli
·                     Angelo T.A.(1991): Classroom Assessment is a simple method faculty can use to collect feedback, early and often, on how well their students are learning what they are being taught. (Artinya: asesmen Kelas adalah suatu metode yang sederhana dapat digunakan untuk mengumpulkan umpan balik, baik di awal maupun setelah pembelajaran tentang seberapa baik siswa mempelajari apa yang telah diajarkan kepada mereka.)
·                     Kizlik, Bob (2009): Assessment is a process by which information is obtained relative to some known objective or goal. Assessment is a broad term that includes testing. A test is a special form of assessment. Tests are assessments made under contrived circumstances especially so that they may be administered. In other words, all tests are assessments, but not all assessments are tests. (Artinya : asesmen adalah suatu proses dimana informasi diperoleh berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Asesmen adalah istilah yang luas yang mencakup tes (pengujian). Tes adalah bentuk khusus dari asesmen. Tes adalah salah satu bentuk asesmen. Dengan kata lain, semua tes merupakan asesmen, namun tidak semua asesmen berupa tes)
·                     Overton, Terry (2008): Assesment is a process of gathering information to monitor progress and make educational decisions if necessary. As noted in my definition of test, an assesment may include a test, but also include methods such as observations, interview, behavior monitoring, etc. (Artinya: sesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi untuk memonitor kemajuan dan bila diperlukan pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan. Sebagaimana disebutkan dalam definisi saya tentang tes, suatu asesmen bisa saja terdiri dari tes, atau bisa juga terdiri dari berbagai metode seperti observasi, wawancara, monitoring tingkah laku, dan sebagainya).
·                     Palomba and Banta(1999), Assessment is the systematic collection , review , and use of information about educational programs undertaken for the purpose of improving student learning and development (Artinya: asesmen adalah pengumpulan, reviu, dan penggunaan informasi secara sistematik tentang program pendidikan dengan tujuan meningkatkan belajar dan perkembangan siswa).
Kesimpulan Tentang Pengertian Asesmen:
·                     Asesmen merupakan metode dan proses yang digunakan untuk mengumpulkan umpan balik tentang seberapa baik siswa belajar.
·                     Dapat dilakukan di awal, di akhir (sesudah), maupun saat pembelajaran sedang berlangsung.
·                     Asesmen dapat berupa tes atau nontes.
·                     Asesmen berupa nontes misalnya penggunaan metode observasi, wawancara, monitoring tingkah laku, dsb.
·                     Hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
·                     Bertujuan meningkatkan belajar (pembelajaran) dan perkembangan siswa.
Pengertian Tes Menurut Para Ahli
·                     Wayan Nurkencana (1993), tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut yang kemudian dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau standar yang telah ditetapkan
·                     Overton, Terry (2008): test is a method to determine a student’s ability to complete certain tasks or demontstrate mastery of a skill or knowledge of content. Some types would be multiple choice tests or a weekly spelling test. While it commonly used interchangeably with assesment, or even evaluation, it can be distinguished by the fact  that a test is one form of an assesment. (Tes adalah suatu metode untuk menentukan kemampuan siswa menyelesaikan sejumlah tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan pada suatu materi pelajaran. Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan. Seringkali penggunaannya tertukar dengan asesmen, atau bahkan evaluasi (penilaian), yang mana sebenarnya tes dapat dengan mudah dibedakan berdasarkan kenyataan bahwa tes adalah salah satu bentuk asesmen.)
Kesimpulan Tentang Pengertian Tes:
·                     Tes adalah cara atau metode untuk menentukan kemampuan siswa menyelesaikan tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan.
·                     Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan.
·                     Tes adalah salah satu bentuk asesmen
Diagram Kedudukan Istilah Evaluasi, Penilaian, Pengukuran, Asesmen, dan Tes. 
Perhatikan Gambar berikut, yang merupakan diagram kedudukan istilah evaluasi, penilaian, pengukuran, asesmen, dan tes yang seringkali membingungkan. Diagram dibuat berdasarkan induksi dari pengertian evaluasi (penilaian), penegertian pengukuran, pengertian asesmen, dan pengertian tesmenurut para ahli di atas.
kuis yang diselenggarakan secara mendadak atau terjadwal. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kuis yang terjadwal akan membuat peserta didik dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu, namun dapat memberikan peluang kepada yang bersangkutan untuk berbuat kecurangan (tindakan tidak jujur dengan meminta orang lain alias joki yang mengerjakannya). Sementara kuis mendadak dengan cara menghubungi secara langsung via telpon, SMS, chatting, email, atau modus lainnya akan lebih memenuhi sasaran, namun belum tentu yang bersangkutan sedang dalam kondisi siap dihubungi (online). Saat ini teknologi memberikan keleluasaan bagi peserta untuk mengambil kuis secara online berbasia pilihan ganda atau mini esai yang dapat dipersonalisasi (setiap peserta didik mendapatkan soal yang berbeda karena merupakan hasil pemilihan acak oleh komputer) dan langsung dinilai secara otomatis. Aplikasi semacam Moodle menyediakan sejumlah variasi kuis yang dapat dikombinasikan seperti: pilihan ganda tunggal (memilih satu jawaban benar), pilihan ganda jamak (ada beberapa jawaban yang benar), pemetaan pasangan pertanyaan-jawaban, mini esai berupa jawaban singkat terpola, mengurutkan jawaban dengan benar, pilihan ganda sederhana (benar atau salah), dan lain sebagainya.
Kedua adalah menilai keaktifan dan kualitas peserta didik dalam berdiskusi dengan sesamanya membahas pertanyaan atau tantangan pemikiran yang diajukan oleh dosen pengampu. Partisipasi atau keaktifan peserta berikut kualitas jawabannya adalah sesuatu yang dapat dinilai oleh dosen untuk menakar tingkatan pemahaman yang bersangkutan terhadap materi yang diberikan. Banyak cara dan model diskusi secara online yang tersedia dan dapat dimanfaatkan, seperti: mailing list (dengan atau tanpa moderator), active chatting, forum diskusi, newsgroup, multi-party virtual meeting, dan lain sebagainya.
Cara ketiga adalah dengan memberikan latihan atau tugas yang hasilnya berupa laporan file elektronik (digital file) yang dibagikan maupun dikirimkan via internet. Dalam konteks PJJ, diusahakan sedapat mugkin tidak banyak melibatkan kertas, agar mekanisme serta prosedur pengumpulan tugas dapat dilakukan secara efektif, efisien, dan terkendali dengan baik (mampu telusur). Waktu mengerjakan latihan atau tugas menjadi indikator yang penting untuk ditetapkan karena akan mempengaruhi kualitas hasil pengerjaannya oleh peserta didik. Di dalam konteks PJJ, waktu pengumpulan hasil latihan atau tugas dapat diset sedemikian rupa sehingga peserat didik yang terlambat mengumpulkannya akan ditolak oleh sistem. Hal ini dapat membantu dosen maupun peserta didik agar memiliki kedisiplinan dalam kegiatan belajar mengajar.
Terkait dengan beberapa mata kuliah, ada cara lain yang dapat dipergunakan yaitu dengan memakai aplikasi simulasi. Dalam aplikasi simulasi yang memimikkan kondisi sesungguhnya ini peserta didik diminta untuk mengambil sejumlah keputusan berdasarkan pemahaman atau kompetensi yang dimilikinya. Hasilnya adalah skor yang dapat diperingkat antar satu peserta didik dengan lainnya. Sehingga berdasarkan peringkat yang ada, peserta didik ditentukan nilai evaluasinya. Selain peringkat, cara lain yang dapat dipergunakan sebagai bahan evaluasi adalah strategi yang dipergunakan peserta didik dalam mencermati tantangan studi kasus yang disimulasikan.
Cara terakhir yang paling ampuh adalah dengan melakukan wawancara langsung via tatap muka secara virtual dengan menggunakan aplikasi tele conference seperti Skype, VMeet, dan lain sebagainya. Model wawancara ini adalah yang paling efektif karena dosen dapat melihat dan mendengar secara langsung kemampuan sang peserta didik dalam menjawab berbagai persoalan yang ditanyakan oleh pengajar. Model ini kerap dipergunakan dalam ujian akhir dan bersifat mutlak (veto) karena dapat menganulir hasil evaluasi sebelumnya yang memiliki risiko dikerjakan oleh pihak lain (joki) karena tidak ada pengendalinya.
Kelima model penilaian ini selayaknya digunakan secara simultan dan ditentukan bobotnya sesuai dengan karakteristik mata kuliah dan capaian pembelajaran yang ada. Karena sifatnya yang terpadu dan terintegrasi, dosen pengampu mata kuliah harus memiliki perencanaan yang matang dalam mempersiapkannya.


Sabtu, 22 November 2014

ORGANOGENESIS

“MAKALAH ORGANOGENESIS”
Di Ajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Perkembangan Hewan

Disusun oleh  :
Syahrul ahyar            (342012136)
Kelas/semester           : D/V
Dosen Pengasuh        : Dra.Hj.Aseptianova,.M.Pd


Universitas Muhammadiyah Palembang
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Biologi
2013



KATA PENGANTAR

Alhamdulillah syukur kehadirat Allah swt,yang telah memberi rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengaan baik dan tanpa halangan dan rintangan, selanjutnya shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi besar Muhammad saw, yang telah membawa umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman modern seperti sekarang ini.
            Makalah yang berjudul Organogenesis ini disusun dengan maksud membantu mahasiswa dalam melengkapi khazanah mata kuliah Perkembangan Hewan. Dalam penyususnan makalah ini kami mendapatkan kontribusi dari berbagai piahak. Untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih terutama kepada Dosen pengasuh mata kuliah Perkembangan Hewan Ibu Dra.Hj. Aseptianova.,M.Pd yang telah membantu kami dalam penyelesaian makalah ini. Kami menyadari makalah ini belum sempurna,yang mungkin terdapat banyak kekurangan baik dalam hal penulisan dan,bahasa yang kurang tepat.oleh karena itu kepada para pembaca dan pakar,kami mengharapkan kritikan yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.Akhirnya kami mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat.

                                                                                                Palembang, 18 November 2013






                                                                                                   Penuli



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Organogenesis adalah suatu proses pembentukan organ yang berasal dari  tiga lapisan germinal embrio yang telah terbentuk terlebih dahulu pada tahap gastrulasi. Masing- masing lapisan yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm akan membentuk suatu bumbung yang  akan berkembang menjadi sistem organ tertentu yang berbeda namun berkaitan satu dengan yang lain. Pada organogenesis juga terjadi tahap pertumbuhan akhir embrio yaitu penyelesaian secara halus bentuk definitif menjadi ciri suatu individu(Anonim, 2011).
Lapisan-lapisan tersebut berkembang menjadi turunan jaringan dan organ masing-masing pada saat dewasa. Misalnya  lapisan Ektoderm akan berdiferensiasi menjadi cor (jantung), otak (sistem saraf), integumen (kulit), rambut dan alat indera. Lapisan Mesoderm akan berdiferensiasi menjadi otot, rangka (tulang/osteon), alat reproduksi (testis dan ovarium), alat peredaran darah dan alat ekskresi seperti ren. Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo. Imbas embrionik yaitu pengaruh dua lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk hidup. Contohnya : Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi dalam pembentukan kelopak mata. Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo. Imbas embrionik yaitu pengaruh dua lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk hidup. Contohnya : Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi dalam pembentukan kelopak mata .





I.2 Tujuan
            Adapun tujuan penyusunan makalah ini meliputi :
1.     Mengetahui apa yang dimaksud dengan organogenesis
2.    Mengetahui tahapan organogenesis
3.    Mengetahui turunan derivat dari mesoderm
4.    Mengetahui turunan derivat dari endoderm
5.    Mengetahui turunan derivat dari ectoderm
























BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN ORGANOGENESIS
            Organogenesis adalah proses pembentukan organ-organ tubuh eksternal dan internal embrio, yang berasal dari lapisan-lapisan lembaga ektoderm, mesoderm dan endoderm. Organogenesis merupakan tahapan perkembangan embrio yang paling sensitif dan memerlukan waktu paling lama. Suatu organ dikatakan turunan/ derivat dari suatu lapisan lembaga, bukan berarti seluruh bagian organ itu terbentuk dari lapisan lembaga tersebut, tetapi karena bagian yang terbentuk pertama kali dari organ itu dibentuk pada lapisan lembaga tersebut. Misalnya: usus dikatakan sebagai turunan endoderm, karena bagian dari usus yang pertama kali terbentuk, yaitu epitelnya, terbentuk pada lapisan/ bumbung endoderm. Jaringan lain penyusun usus berasal dari mesoderm atau mesenkim.
 Periode organogenesis
a.       Pertumbuhan antara (transisi): embrio bentuk primitif mengalami transformasi dan diferensiasi → bentuk definitif (mempunyai ciri spesifik spesies)
b.      Pertumbuhan akhir: embrio bentuk definitif mengalami penyelesaian secara halus → embrio dengan ciri individu.
Pada embrio manusia organogenesis kebanyakan organ (kecuali yang termasuk sistem saraf, sistem reproduksi, gigi dan langit-langit) telah selesai pada akhir minggu ke-8 kehamilan, dan mulai minggu ke-9 kehamilan embrio disebut fetus.

Perubahan pada embrio vertebrata selama organogenesis:
a. pemanjangan tubuh
b. pembentukan ekor
c. pembagian tubuh menjadi bagian kepala dan badan.

d. perkembangan anggota badan
e.  pemisahan embrio dari bagian ekstra embrio (pada amniota)
f. Organogenesis melibatkan peristiwa induksi embrionik.

Induksi embrionik
 peristiwa berinteraksinya dua macam jaringan pada embrio yang menyebabkan berdiferensasinya jaringan yang mendapat rangsangan  menjadi suatu struktur yang baru. jaringan yang memberi rangsangan pada jaringan lain untuk bereaksi dan berdiferensiasi disebut jaringan inductor
jaringan yang tanggap terhadap rangsangan induktor disebut jaringan kompeten.

Induksi primer
Contoh: korda mesoderm ==> ektoderm                            endoderm ==> epiblas
                                                         clip_image005[10]                                                             clip_image005[10]
                                             keping neural                                            mesoderm

Induksi sekunder
induksi yang terjadi dimana jaringan induktornya merupakan struktur yang dihasilkan dari induksi sebelumnya.

Contoh: vesikula optik » ektoderm                             rombensefalon » ektoderm
                                       
clip_image005[9]                                                                clip_image005[10]
                                   plakoda lensa                                                vesikula otik
- Zat induktor yang dikeluarkan oleh jaringan induktor untuk merangsang jaringan kompeten adalah suatu substansi kimia berupa protein atau ribonukleoprotein.
Turunan lapisan-lapisan lembaga dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Asal dan turunan lapisan-lapisan lembaga ektoderm, mesoderm dan endoderm pada embrio manusia (Sumber: Moore, 1989). Catatan: mesoderm paraxial = mesoderm dorsal (epimer, somit); mesoderm intermediate = mesomer; mesoderm lateral = hipomer.




B.     TURUNAN EKTODERM
1. Pembentukan sistem saraf pusat
Bumbung neural akan berkembang menjadi sistem saraf pusat, yaitu otak dan sumsum tulang belakang.

                            

clip_image018[4]Bagian bumbung neural yang tersisa akan menjadi medula spinalis.

2. Pembentukan mata
Pembentukan mata embrio manusia terjadi pada usia kehamilan 6 minggu. Prosensefalon bakal diensefalon berevaginasi ke arah lateral membentuk vesikula optic. Vesikula optik menginduksi ektoderm epidermis di hadapannya untuk membentuk penebalan/ plakoda lensa . Plakoda lensa berinvaginasi menjadi vesikula lensa, lalu menginduksi balik vesikula optik → vesikula optik berinvaginasi menjadi cawan optik . Cawan optik berdiferensiasi menjadi dua lapisan, yaitu sebelah luar: lapisan berpigmen → menjadi retina berpigmen; dan sebelah dalam: lapisan sensoris → menjadi retina sensoris
Bagian pangkal cawan optik menyempit, disebut tangkai optik dan berhubungan dengan diensefalon. Akson sel-sel ganglionik dari retina sensoris bertemu pada bagian dasar mata sepanjang tangkai optik dan menjadi saraf optik. Vesikula lensa melepaskan diri dari ektoderm epidermis → menjadi lensa. Lensa akan berdiferensiasi menjadi transparan, berkaitan dengan perubahan struktur sel dan sintesis protein spesifik yang disebut kristalin.  Lensa menginduksi ektoderm epidermis yang menutupinya → menjadi kornea. Kornea akan menjadi jernih, karena pigmen pada sel-selnya menjdi hilang. Bagian tepi cawan optik yang tidak ikut berubah menjadi retina sensoris akan berkembang menjadi iris. Lapisan koroid dan sklera dibentuk dari mesenkim yang berakumulasi mengelilingi bola mata. Ektoderm epidermis di depan kornea akan menjadi kelopak mata. Kematian sel-sel di tengah-tengah bagian tersebut menyebabkan terpisahnya kelopak mata atas dan bawah.

Gambar 2.
                                Perkembangan vesikula optik dan vesikula lensa pada embrio manusia 



Gambar 3. Irisan horizontal daerah mata embrio manusia


Gambar 4.
 Irisan vertikal mata embrio manusia yang sedang berkembang. A. tahap awal; B. tahap lanjut. Ch= koroid; N. ret.= retina sensoris; Pig. ret = retina berpigmen; S.c. = sklera. (Sumber: Majumdar, 1985)

3. Pembentukan kulit
Contoh: pada embrio manusia
a.       Sampai umur 1 bulan, embrio manusia hanya memiliki penutup tubuh berupas elapis sel ektoderm berbentuk kubus.
b.      Sel-sel ektoderm membelah secara mitosis membentuk 2 lapisan, yaitu periderm (sebelah atas) dan ektoderm (sebelah bawah). Periderm hilang sebelum bayi lahir.
c.       Pada akhir bulan ke-2 sel-sel ektoderm berproliferasi membentuk 2-3 lapis sel yang disebut stratum germinativum (stratum basale).
d.       Stratum berikutnya terbentuk di atasnya, yaitu stratum spinosum.
e.        Berikutnya terbentuk stratum granulosum yang terdiri dari 3-5 lapis sel; sel-selnya memiliki granula keratohialin.
f.        Berikutnya terbentuk stratum lusidum (pada kulit tak berambut/ kulit tebal) berupa selapis tipis sel.
g.       Selanjutnya terbentuk stratum korneum yang merupakan lapisan epidermis teratas. Sel-sel mati dari startum korneum secara kontinyu dilepaskan dari permukaan kulit, digantikan oleh sel-sel lusidum. Sel-sel lusidum digantikan oleh sel-sel dari lapisan granulosum, dan seterusnya. Hal ini dapat terjadi karena sel-sel pada stratum germinativum selalu aktif berproliferasi.
h.       Dermis kulit dibentuk oleh sel-sel mesenkim yang berasal dari mesoderm somatik hipomer atau dari dermatom epimer. Sel-sel mesenkim membentuk jaringan ikat, pembuluh darah, serta otot polos penegak rambut (pada kulit berambut). Saraf dan ujung-ujung saraf yang terdapat di dermis merupakan cabang dari saraf-saraf yang memasuki kulit.
Gambar 5. Perkembangan kulit manusia. A. Tahap mesenkimal awal; B. pembentukan ektoderm, periderm dan dermis; C. Pembentukan epidermis; D. penambahan lapisan sel-sel epidermal; E. Struktur histologi kulit dewasa, kelenjar-kelenjar tidak diperlihatkan. (Sumber: Majumdar, 1985)

C.    TURUNAN ENDODERM
1.      Pembentukan saluran pencernaan
Saluran pencernaan primitif terbagi menjadi 3 bagian, yaitu usus depan (fore gut), usus tengah (mid gut), dan usus belakang (hind gut).
a.       Usus depan: terbentuk oleh adanya pelipatan endodern atap arkenteron bagian anterior, yang akan diikuti oleh mesoderm splanknik.
Usus depan akan menjadi rongga mulut, faring, esofagus, lambung dan duodenum.
b.      Usus tengah: daerah arkenteron antara usus depan dan usus belakang.
Usus tengah akan menjadi yeyunum, ileum dan kolon
c.       Usus belakang: terbentuk oleh adanya pelipatan endodern atap arkenteron bagian posterior, yang akan diikuti oleh mesoderm splanknik.
Usus belakang akan menjadi rektum dan kloaka atau anus
Epitel saluran pencernaan terbentuk dari endoderm, kecuali epitel mulut dan anus – dari ektoderm. Jaringan-jaringan/ struktur-struktur lain penyususn saluran pencernaan dibentuk oleh mesoderm splanknik.


Gambar 6. Turunan-turunan endoderm. Diagram tabung usus (metenteron, gut) beserta tonjolan-tonjolannya. (Sumber: Oppenheimer, 1980)

1. Pembentukan mulut
 Mulut terbentuk pada bagian anterior usus depan. Invaginasi ektoderm (= lekuk stomodeum) yang diikuti dengan evaginasi endoderm usus depan menyebabkan terbentuknya keping oral. Keping oral makin lama makin menipis, akhirnya pecah → menjadi lubang mulut.

2. Pembentukan anus
Anus terbentuk pada bagian posterior usus belakang. Invaginasi ektoderm (= lekuk proktodeum) yang diikuti dengan evaginasi endoderm usus belakang menyebabkan terbentuknya keping anal. Keping anal makin lama makin menipis, akhirnya pecah → menjadi lubang anus.

3. Pembentukan hati

 Tunas (divertikulum) hati timbul sebagai evaginasi ke arah ventaral dari endoderm di antara bakal lambung dan duodenum. Tonjolan endoderm tersebut dilapisi oleh mesenkim dan mesoderm splanknik. Tunas hati kemudian bercabang-cabang membentuk hati, percabangan bagian distal membentuk sel-sel parenkim sekretori, bagian proksimal membentuk sel-sel duktus hepatikus.
- Sel-sel hati (perenkim hati) dan sel-sel duktus hepatikus terbentuk dari endoderm
- Jaringan-jaringan lain dari hati dibentuk oleh mesenkim dan mesoderm splanknik.
- Dari bagian akar tunas hati timbul tonjolan yang lain, yaitu tunas kantung empedu.

Gambar 7.
Perkembangan hati dan pankreas manusia. A. Stadium sangat awal. B. Stadium lanjut. C. Posisi kantung empedu dan duktus pankreas, dan fusi kedua bagian pankreas menjadi pankreas tunggal. (Sumber: Majumdar, 1985)

3. Pembentukan pancreas
 Pankreas tunggal berasal dari dua buah tonjolan endoderm di dekat tunas hati (1 diventral dan 1 di dorsal). Kedua tonjolan tersebut kemudian bercabang-cabang dan berfusi membentuk pankreas tunggal.
a.       Sel-sel pankreas sekretori (asini pankreas) dan sel-sel duktus pankreatik dibentuk dari sel-sell endodermal
b.      Pulau-pulau Langerhans dibentuk dari sel-sell endodermal. Pada awal perkembangannya, kelompok sel-sel endodermal ini menjadi terpisah dan terperangkap dalam mesoderm di antara asini pankreas. Kelompok-kelompok tersebut termodifikasi menjadi sel-sel pulau Langerhans. Di dalam pankreas manusia dewasa terdapat 200.000 sampai 1.800.000 pulau Langerhans.


Gambar 8. Pembentukan asini pankreas dan sebuah pulau Langerhans. A. Tahap awal; B. Tahap lanjut. (Sumber: Majumdar, 1985)

4. Pembentukan trakea dan paru-paru
a.       Pembentukan trakea dan paru-paru berkaitan dengan saluran pencernaan.
b.      Pada usus depan di perbatasan faring dan esofagus terjadi evaginasi endoderm ke arah ventral membentuk lekuk laringotrakea.
c.       Lekuk laringotrakea memanjang, kemudian memisahkan diri dari usus depan dan akan tumbuh ke arah posterior sebagai trakea yang terletak di sisi ventral esofagus. Endoderm yang berasal dari usus depan membentuk bagian epitel trakea, sedangkan tulang rawan, jaringan ikat dan ototnya berasal dari mesenkim disekitarnya.
d.      Sementara memanjang, kedua ujung trakea menggelembung → menjadi tunas paru-paru.
e.       Mesoderm akan menginduksi tunas paru-paru untuk terus tumbuh dan membentuk percabangan bronkus dan bronkiolus. Di akhir percabangan, epitel akan menipis dan terbentuklah alveolus.
f.       Epitel bronkus sampai dengan alveolus terbentuk dari endoderm, demikian pula dengan kelenjar-kelenjarnya; sedangkan jaringan ikat dan otot pada paru-paru terbentuk dari mesenkim. Pleura yang membungkus paru-paru berasal dari mesoderm splanknik.

Gambar 9. Perkembangan sistem respirasi manusia. A, tahap tunas paru-paru pada embrio 4 minggu; B, tahap lanjut; C, paru-paru kecil yang terbentuk melalui percabangan yang berulang-ulang dari bumbung endoderm untuk membentuk cabang-cabang bronkial dan alveoli, pada embrio 7 minggu. D, sekelompok alveoli dari paru-paru dewasa. E, dinding alveolus ari paru-paru dewasa (Sumber: Majumdar, 1985)

D.    TURUNAN MESODERM
1.      Pembentukan ginjal
Ginjal merupakan turunan dari mesoderm intermedier (mesomer). Pembentukan ginjal embrio vertebrata ditandai dengan adanya penonjolan pada mesoderm intermedier di daerah anterior embrio, yang disebut nefrotom. Selanjutnya perkembangan ginjal berlangsung dari anterior ke posterior, dimulai dengan pembentukan ginjal tipe pronefros, kemudian mesonefros, dan terakhir metanefros. Semua tahapan terjadi pada pembentukan ginjal hewan amniota. Perkembangan ginjal hewan anamniota hanya sampai tahap mesonefros.
Tahap-tahap perkembangan ginjal embrio vertebrata adalah sebagai berikut:
· Nefrotom membentuk pronefros, yang terdiri dari nefrostom yang berhubungan dengan coelom, tubulus pronefros, dan duktus pronefros yang berjalan ke arah posterior. Bagian anterior mesoderm intermedier bersegmen, tetapi bagian posteriornya bersatu membentuk jaringan nefrogenik. Pada embrio amniota pronefros sangat vestigial dan segera berdegenerasi.
· Pada umur embrio yang lebih tua, jaringan nefrogenik di sebelah posterior pronefros akan membentuk mesonefros yang terdiri dari: tubulus-tubulus mesonefros yang akan bermuara di dalam duktus pronefros bagian posterior yang disebut duktus mesonefros (saluran Wolff), dan kapsula yang akan diisi oleh glomerulus.
Mesonefros merupakan ginjal definitif pada hewan anamniota, sedangkan pada amniota hanya berfungsi sebelum terbentuknya ginjal metanefros.
· Pada umur embrio yang lebih lanjut, dari bagian posterior saluran Wollf timbul tunas mesonefros yang akan memanjang menjadi ureter, bagian ujungnya melebar dalam jaringan nefrogenik yang tersisa untuk menginduksi pembentukan metanefros, yang merupakan ginjal definitif pada amniota.
Metanefros merupakan ginjal yang paling sempurna, masing-masing ginjal mengandung ribuan nefron.
Catatan: pada embrio amniota jantan, ketika ginjal mesonefros berdegenerasi, tubulus-tubulus mesonefros dan saluran mesonefros akan berkembang menjadi saluran reproduksi (epididimis dan duktus deferen), sedangkan pada embrio amniota betina seluruh bagian mesonefros akan berdegenerasi.

Gambar 10. Perkembangan ginjal embrio manusia. A,.Menunjukkan bakal pronefros, mesonefros dan metanefros pada jaringan nefrogenik. B, pronefros berdegenerasi, pembentukan mesonefros. C, Pertumbuhan tunas ureter mencapai jaringan nefrogenik untuk merangsang pembentukan metanefros. D, mesonefros berdegenerasi, metanefros sedang berkembang. E, perkembangan sistem urogenitas fetus laki-laki sekitar umur 3 bulan kehamilan. (Sumber: Majumdar, 1985)

2. Pembentukan gonad
· Gonad merupakan turunan mesoderm intermedier, dibentuk sebagai suatu penebalan pada permukaan ventromedian mesonefros, yang disebut pematang genital. Pematang genital terdiri atas mesenkim di bagian dalam dan epitel di bagian luar yang disebut epitel germinal.
· Primordial germ cells (bakal sel kelamin = BSK) yang berasal dari endoderm kantung yolk dibawa mendekati pematang genital,melalui aliran darah (pada aves), atau oleh aliran sel-sel di sekitarnya, kemudian memasuki pematang genital secara aktif dengan gerakan pseudopodia → menempati lapisan epitel pematang genital.
· Setelah BSK tertanam di epitel germinal, epitel germinal mencembung ke arah coelom, dan menumbuhkan pita-pita seks primitif ke arah dalam. BSK juga bermigrasi ke pita-pita seks primitif. Mesenkim di sela-sela pita-pita seks primitif diisi oleh pembuluh darah yang mensuplai gonad. Bagian bakal gonad yang tersusun atas epitel germinal disebut bagian korteks, sedangkan bagian yang mengandung pita-pita seks primitif disebut medula. Gonad pada tahap ini disebut gonad indiferen.

Pembentukan testis:
a.       Bagian korteks gonad indiferen tereduksi. BSK dari bagian korteks akan bermigrasi ke pita-pita seks primitif di medula.
b.      Pita-pita seks primitif akan membentuk rongga → menjadi tubulus seminiferus; BSK di dalamnya akan menjadi spermatogonium, epitelnya akan menjadi sel Sertoli.
Pembentukan ovarium:
a.       Bagian medula gonad indiferen tereduksi; pita-pita seks primitif direduksi, kemudian medula diisi oleh sel-sel mesenkim dan pembuluh darah.
b.      Bagian korteks menebal, BSK di dalamnya menjadi oogonium. Sel-sel epitel korteks membentuk sel-sel folikel. Oogonium memasuki tahap awal oogenesis dan berkembang menjadi oosit. Oosit beserta sel-sel folikel membangun folikel telur.



Gambar 11. Giagram perkembangan gonad. (A) pematang genital, BSK tertanam di epitel germinal dan sebagian di mesenkim. (B) gonad indiferen, BSK di korteks dan pita-pita seks primitif. (C) gonad yang berdiferensiasi menjadi testis, korteks tereduksi, BSK di pita-pita seks primitif. (D) gonad yang berdiferensiasi menjadi ovarium, pita seks primitif tereduksi, korteks berproliferasi terisi BSK (Sumber: Balinsky, 1981).